Asisten Fotografer, Kapan Diperlukan?
Mungkin kita sering dibingungkan dengan Asisten dan Fotografer 2. Atau di lapangan, Fotografer 2 sering merangkap sebagai asisten padahal kehadiran Fotografer 2 dan juga asisten fotografer sama-sama penting dalam setiap project.
Seorang fotografer yang baru memulai bisnis fotografinya biasanya melakukan semua hal sendiri, padahal kenyataannya hal ini justru akan semakin memperlihatkan ke-amatirannya di lapangan. Tentunya banyak pertimbangan yang diambil seorang fotografer ketika dihadapkan pada pilihan untuk melakukan sebuah proyek. Apakah akan dilakukan sendiri, atau akan dilakuan dengan team. Team disini, bisa menyangkut seorang, atau lebih yang diajak dalam menyelesaikan sebuah proyek fotografi.
Hal pertama yang menjadi pertimbangan seorang fotografer yaitu budget (anggaran). Bisa jadi paket yang ditawarkan kepada klien terlalu minim, atau bisa juga karena request klien yang membuat anggaran sebuah proyek menjadi kecil, sehingga alasan untuk bekerja sendiri bisa masuk akal. Lalu pertanyaannya, apakah dengan bekerja sendiri akan membuat perkerjaan lebih ringan atau bahkan lebih ruwet? Kembali lagi ke jam terbang seorang fotografer dan juga kebiasaan yang sudah dialami sebelumnya.
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, kebiasaan merupakan alasan fotografer biasa untuk bekerja sendiri. Jadi, kebiasaan membawa tas berat sendiri, kebiasaan atur lighting sendiri, atau bahkan makan dan minum sendiri di lapangan hehe. Bisa jadi kehadiran seorang asisten hanya akan memperlambat kerja dan memakan waktu yang lebih lama di lapangan karena segala sesuatu sudah biasa dikerjakan sendirian. Iya, memang kembali lagi ke kebiasaan fotografer masing-masing.
Nah, mungkin alasan berikut ini tidak terpikirkan tapi biasanya kendala seorang fotografer tidak memakai jasa asisten karena belum tahu bagaimana manajemen kerja seorang fotografer dengan asisten. Mulai dari apa saja yang dapat dikerjakan asisten, berapa harus bayar seorang asisten, atau bahkan bagaimana bisa akur bila bekerja dengan seorang asisten.
Jika dilihat dari kesibukan seorang fotografer, ada 2 (dua) hal yang dapat dipertimbangkan seorang fotografer menggunakan jasa asisten, yang pertama yaitu lighting dan yang kedua yaitu stylist/posing.
Asisten Lighting
Tidak bisa dipungkiri memang terkadang kondisi cuaca dan cahaya di lapangan tidak memihak pada harapan fotografer. Cuaca yang sebelumnya terang bisa berubah menjadi gelap berawan. Hal inilah yang biasanya membuat mood fotografer dan bahkan model atau klien berubah.
Bahkan disituasi yang cukup cahaya pun masih memerlukan sedikit pengaturan cahaya agar sesuai dengan gelap terang dan background dari objek foto. Disinilah peran seorang asisten diperlukan. Sebelumnya bisa saja seorang fotografer sibuk meletakan flash atau softbox di kiri/kanan model kemudian berlari menjauh untuk memotret, membawa alat-alat lighting yang berat sendirian, atau bahkan frustasi karena sudah menemukan kesesuaian model dengan background tetapi cahaya tidak menentukan.
Asisten Stylist/Posing
Tidak sedikit memang seorang fotografer menguasai tehnik posing karena sudah merupakan suatu keharusan. Lalu apakah semua dapat dilakukan sendirian, misal memperbaiki pakaian atau asesoris model yang kurang pas, mengatur arah jatuh pakaian, memperbaiki rambut yang acakadul karena angin, mengelap setiap tetes keringat klien, dan lain-lain masih banyak hehe. Syukur saja Make Up Artist atau ada kerabat klien yang ikutan di lapangan yang mungkin harapannya bisa membantu hal-hal seperti yang sudah disebutkan. Namun kenyataan lebih sering menyakitkan dari pada harapan. Bisa dibayangkan betapa repotnya seorang fotografer di lapangan.
Jadi, jika dilihat dari skala proyek yang sedang dan besar, jangan heran kalau seorang fotografer yang bekerja sendirian dibayar mahal karena semua hal yang asisten bisa lakukan, dapat dikerjakan sendiri. Namun dikemudian hari ini akan menjadi sebuah guyonan dan tidak akan bisa bertahan lama. Di satu sisi akan dicap tidak profesional karena akan sangat memakan waktu dan tenaga di lapangan, di sisi lain usia fotografer tidak akan seterusnya muda. Oleh sebab itulah ada baiknya kita berbagi.
Budgeting untuk Asisten
Mungkin ini yang sedikit memerlukan pengorbanan seorang fotografer, tapi efek dari sebuah pengorbanan bisa lebih besar menghasilkan kedepannya. Mengalokasikan 10% dari harga sebuah proyek untuk seorang asisten bisa jadi akan terasa berat apabila harga sebuah proyek fotografi masih kecil. Tentunya kembali ke kesepakatan dengan asisten yang bersangkutan.
Alokasi 10%-15% akan terasa rasional apabila harga sebuah proyek dimulai dari harga minimal 500K. 10% untuk asisten lighting, dan 10% untuk asisten stylist, atau 15% untuk double-asistant. Jadi perhitungannya sebagai berikut:
Harga Proyek : Rp. 500.000
Asisten 1 : (10%) 50.000
Asisten 2 : (10%) 50.000
double-asistant : (15%) 75.000
Demikian sharing kali ini, semoga bermanfaat dan bisa memberikan gambaran tentang perlunya asisten dalam sebuah proyek fotografi. Apabila dalam penyampaian ini ada perbedaan pemikiran silahkan komen di bawah. Semangat! 😀

Comments
Post a Comment